Links
Sitemap
 
Rabu, 24 Jan 2018 
 
Halaman Muka | Apa Itu Lifespring | Pelayanan Kami | Mengapa Lifespring | Aktivitas | Artikel | Merchandise | Kontribusi | Bursa Kerja | Kode Etik | FAQ | Kontak

   ARTIKEL

Konseling
Dua Orang Berbeda, Tetapi Satu
Mengobarkan Kasih Dalam Pernikahan
Bagaimana Menjelaskan Kematian Pada Anak
True Love
Pernikahan: Gambaran Hubungan Manusia dengan Tuhan
Dibentuk dalam Pernikahan
Menangani Konflik Dalam Hubungan Anda
Spending Time with Their Peer
Anak yang Dipercepat
Faith Journey Pada Remaja
Perlunya Bicara tentang Kematian pada Anak
Menghargai Anak
Mempersiapkan Anak Masuk Sekolah

   PENCARIAN

Konseling Kristen dan Konseling Sekuler

Sebenarnya, konseling Kristen maupun Sekuler memiliki hasrat dan harapan yang sama untuk menolong manusia mengatasi permasalahan mereka, menemukan arti dan kebahagiaan dalam hidup, mengenali diri dan pribadi mereka sendiri lebih dalam, dan menjadi manusia yang sehat, yang berfungsi sepenuhnya dan dapat menempatkan diri serta merespon dengan tepat secara mental dan emosional. Kebanyakan konselor memiliki pendidikan yang teruji dan telah berkarya bertahun-tahun untuk mempertajam keahlian mereka.

Arti konseling sendiri memiliki banyak makna, termasuk di dalamnya memberikan nasihat/insight, saran, masukan, dan dorongan, membagikan hikmat dan kemampuan, men-setting-goals/tujuan, resolving conflict, mengajak klien/konselee mengenali diri, membangkitkan self-awareness, dll.

Konselor biasanya menggali masa lalu (misalnya jika permasalahannya terjadi seminggu yang lalu atau semasa kanak-kanak) sebagai usaha untuk memperbaiki kondisi di masa kini. Terkadang konselor meng-explore kemungkinan-kemungkinan akibat ketidakseimbangan physical dan chemical di dalam tubuh sehingga dapat menyebabkan masalah-masalah fisiologis. Konselor juga mempelajari respon-respon bagaimana manusia bereaksi terhadap masalah-masalah yang hadir dalam hidup mereka. Bahkan memberi tugas-tugas/assignments untuk dikerjakan dan mengukur kemajuan seseorang dalam proses konseling. Salah satu bagian yang cukup besar dalam konseling ialah mengungkapkan dan memulihkan konflik antara manusia (resolving and restoring conflits)

Namun Konseling Kristen sebetulnya memiliki perbedaan-perbedaan yang signifikan dengan konseling sekuler. International Association of Biblical Counselors menyatakan:

“In Contrast to psychologically-integrated systems, Biblical counseling seeks to carefully discover those areas in which a Christian may be disobedient to the principles and commands of Scripture and to help him learn how to lovingly submit to God’s will.”

Hal ini juga didukung oleh Susabda, baginya Konseling Kristen tidak hanya didasari oleh natural laws dan conscience laws saja, tapi juga God’s laws. Misalnya saja seorang laki-laki yang berani menikah, tetapi tidak mau bekerja adalah individu yang melakukan pelanggaran hukum alam/natural law yakni hukum kewajaran hidup, sehingga ia pasti orang yang bermasalah. Sedangkan, seorang laki-laki yang tahu ibunya sedang membutuhkan pengobatan karena kanker dan sangat membutuhkan dukungan keuangan, tetapi memilih memakai uang yang ada untuk membeli mobil baru, adalah individu yang melakukan pelanggaran hati nurani/conscience law, sehingga ia pasti individu yang bermasalah. Kedua hal ini pasti disetujui oleh konselor sekuler. Tapi dalam konseling kristen yang percaya bahwa didalamnya ada hukum Allah /God’s law, yakni: hukum yang disediakan bagi anak-anak Tuhan, ada perbedaan yang muncul secara prinsipil. Misalnya, seorang wanita profesional, karena kemampuan dan pendapatannya yang lebih besar daripada suaminya, menolak panggilan Allah untuk menjadi penolong yang sepadan, tunduk, dan menghormati, dan melayani suaminya adalah individu yang melakukan pelanggaran terhadap hukum Allah.

Hal ini membuat kita mengerti bahwa prinsip Konseling Kristen memang berbeda dengan Konseling Sekuler. Secara tehnik, konseling kristen dan konseling sekuler memang dapat dikatakan hampir tidak ada perbedaannya. Namun prinsip atau konsep antara Konseling kristen dan sekuler, menghasilkan presuposisi yang berbeda dalam proses Konseling. Collins menyebutkan beberapa presuposisi dasar (pra-anggapan) yang membedakan antara Konseling Kristen dan Sekuler.

1. Orientasi dan Sumber Pengetahuan Konseling

Konseling Sekuler berorientasi pada manusia (anthropocentris) dan sumber pengetahuan adalah berasal dari akal budi dan pengalaman manusia (humanisme). Sedangkan Konseling Kristen berorientasi pada Tuhan (theocentris), karena itu pengetahuan konseling bersumber dari Allah yang telah menyatakan Diri-Nya kepada manusia. Oleh karena itu konselor Kristen percaya bahwa melalui Alkitab Allah telah memberikan prinsip-prinsip bagaimana seharusnya kita hidup.

2. Tujuan Konseling

Konseling Sekuler bertujuan untuk menolong orang yang dikonseling (klien) mendapatkan kebahagiaan hidup. Sebaliknya, konseling Kristen memiliki tujuan utama agar klien dapat hidup menyenangkan Tuhan, yaitu melakukan apa yang Tuhan kehendaki sesuai dengan FirmanNya, sehingga melalui ketaatan kepada Tuhan dan Firman-Nya klien akan membuahkan kebahagiaan hidup yang sejati.

3. Prinsip Konseling

Konseling Sekuler memakai prinsip-prinsip yang lahir dari hikmat dan filsafat manusia untuk menjawab semua kebutuhan-kebutuhan yang diingini manusia. Prinsip-prinsip Konseling Kristen diberikan oleh Tuhan melalui Alkitab, Roh Kudus yang tinggal dalam hati setiap orang percaya dan kuasa doa, agar kehendak Tuhan terjadi dalam hidup klien.

4. Kebenaran Moralitas

Kebenaran moralitas Konseling Sekuler ditentukan oleh situasi etika masyarakat saat itu, yang dapat mengalami pergeseran- pergeseran atau perubahan. Sedangkan Kebenaran moralitas Konseling Kristen berakar pada kebenaran Alkitab yang tidak pernah luntur atau berubah.

 

dari berbagai sumber

 MC

 
Konsultasi
 Copyright © 2007-2009 Lifespring. All Rights Reserved. Developed by Proweb