Links
Sitemap
 
Selasa, 23 Des 2014 
 
Halaman Muka | Apa Itu Lifespring | Pelayanan Kami | Mengapa Lifespring | Aktivitas | Artikel | Merchandise | Kontribusi | Bursa Kerja | Kode Etik | FAQ | Kontak

   ARTIKEL

Konseling
Dua Orang Berbeda, Tetapi Satu
Mengobarkan Kasih Dalam Pernikahan
Bagaimana Menjelaskan Kematian Pada Anak
True Love
Pernikahan: Gambaran Hubungan Manusia dengan Tuhan
Dibentuk dalam Pernikahan
Menangani Konflik Dalam Hubungan Anda
Spending Time with Their Peer
Anak yang Dipercepat
Faith Journey Pada Remaja
Perlunya Bicara tentang Kematian pada Anak
Menghargai Anak
Mempersiapkan Anak Masuk Sekolah

   PENCARIAN

Menangani Konflik Dalam Hubungan Anda

 

Apa arti konflik bagi anda? Jikalau anda mengalami konflik dengan pasangan, apa yang anda lakukan? Apakah anda lebih senang untuk menghindari konflik? Apakah anda cenderung mengabaikan konflik? Atau mungkin anda senang "menghadirkan" konflik? Atau anda memilih jalan pintas untuk menyelesaikan sebuah konflik? Pemahaman kita mengenai apa itu konflik akan membawa kita ke dalam bagaimana kita menghadapi konflik.

Konflik adalah sesuatu yang alamiah terjadi ketika dua orang yang berbeda kepribadian dan latar belakang bersatu dalam sebuah hubungan. Perbedaan kemungkinan besar akan menghasilkan konflik. Yang menjadi masalah bukanlah bagaimana meniadakan konflik, melainkan bagaimana mengelolanya.

Konflik harus dihadapi dan bukan untuk dihindari. Menghindari konflik berarti tidak menghayati realita dengan  tepat. Jikalau kita menghindari realita maka kita akan terjebak ke dalam ilusi semu. Hubungan yang kita bangun tidak "real". Sebuah hubungan akan menjadi real kalau kita berani menyelesaikan konflik dengan tepat dan bertumbuh melaluinya.

Konflik harus dikelola dan bukan untuk diabaikan. Ada orang yang lebih senang mencari persamaan daripada perbedaan. Mereka cenderung menutup mata terhadap berbagai perbedaan sikap, kelakuan, dan cara berpikir dari pasangan. Bagi mereka yang penting adalah kesamaan dan bukan perbedaannya. Memang benar bahwa kesamaan akan memperkuat suatu hubungan. Namun menutup mata terhadap perbedaan merupakan suatu sikap yang tidak logis. Perbedaan tidak akan hilang hanya dengan cara diabaikan. Perbedaan harus diakui, dan konflik harus dikelola agar dapat menjadi kekuatan bagi pasangan.

Konflik harus diselesaikan dengan cara yang membangun. Konflik seharusnya tidak diselesaikan dengan menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Dalam hubungan intim tidak boleh ada yang menang dan yang kalah. Masing-masing pasangan harus merendahkan diri di hadapan satu sama lain. Konflik akan menghasilkan dampak positif bila diselesaikan dengan cara-cara yang positif. Sebaliknya konflik akan menghasilkan dampak negatif bila diselesaikan dengan cara-cara yang negatif.

Konflik harus membawa pasangan ke tingkat hubungan yang lebih tinggi. Berbagai masalah dan pergumulan yang dihadapi dalam suatu hubungan seharusnya membawa kita kepada pertumbuhan hidup. Jikalau kita mampu menghadapi gelombang, maka kita akan berada di atasnya dan bukan berada di bawahya. Masalah dan konflik justru hadir dalam hidup kita untuk membuat diri kita naik satu tingkat lebih tinggi dalam hidup ini. Soren Aabye Kierkegard mengatakan, "Karena duri di kakiku, maka aku dapat melompat lebih tinggi".

Penyebab konflik dalam hubungan

Apa saja yang mungkin menjadi penyebab konflik dalam suatu hubungan? Salah satu penyebab konflik dalam hubungan adalah kebiasaan pasangan. Masalah muncul saat kebiasaan kita berbenturan dengan kebiasaan pasangan. Konfllik akan terjadi juga saat kita tidak menyukai kebiasaan yang dimiliki oleh pasangan kita. Seorang pria tidak menyukai kebiasaan istrinya yang tidak rapih, menempatkan benda sembarangan, dan bahkan mengatur pakaian di lemaripun berantakan. Kebiasaan-kebiasaan seperti ini dapat menjadi sumber konflik dalam kehidupan pasangan.

Kata-kata yang disampaikan juga dapat menjadi sumber konflik dalam hubungan. Apa yang dimaksudkan dalam pikiran seringkali tidak sesuai dengan apa yang dikatakan. Seringkali kata-kata yang keluar justru terasa menyakitkan hati bagi pasangannya. Kata-kata pedas dibalas dengan kata-kata pedas juga. Hasil akhirnya adalah masing-masing merasa sakit hati dan mungkin akan dendam dengan pasangannya.

Pihak ketiga dapat menjadi sumber konflik dalam hubungan. Pihak ketiga bisa saja berupa orang lain, keluarga, teman, dan pihak lainnya yang terlibat dalam kehidupan kita. Seorang wanita marah besar ketika dia tahu pacarnya masih berkomunikasi dengan teman wanitanya yang adalah teman baiknya. Wanita tersebut menjadi sangat cemburu sehingga terjadilah perang mulut yang hebat di antara keduanya.

Berbagai masalah lainnya juga dapat menjadi sumber konflik, seperti kurang perhatian, masalah keuangan, cara mengasuh anak, dll.

Konflik dapat mengakibatkan berbagai hal dalam kehidupan berpasangan. Hubungan menjadi tidak harmonis, Salah satu pasangan mungkin akan mengalami merasa apatis terhadap diri pasangannya. Hubungan akan cepat putus dan bahkan perceraian akan terjadi. Salah satu pasangan mungkin akan memilih untuk melarikan diri dari pasangannya. Stres dan frustasi seringkali dirasakan dalam konflik yang berkelanjutan. Orang dapat mengalami depresi bila konflik semakin meruncing dan berat. Bahkan konflik akan berdampak bukan hanya pada kesehatan jiwa seseorang melainkan juga pada kesehatan fisiknya. Pada tingkat yang paling parah adalah salah satu pasangan mungkin memilih mengakhiri konflik dengan cara bunuh diri.

Prinsip dasar dalam menangani konflik

Salah satu prinsip penting dalam menangani konflik terletak justru bukan pada diri pasangan kita melainkan pada diri kita sendiri. Seringkali kita menginginkan pasangan kitalah yang berubah dan bukan diri kita sendiri. Perlu diingat adalah lebih mudah kalau diri kita sendiri yang berubah daripada orang lain yang berubah. Jadi mulailah menangani konflik dengan merubah diri sendiri. Salah satu hal yang perlu dirubah dari diri kita sendiri adalah untuk tidak mengkritik orang lain dan pasangan kita. Orang akan mengambil sikap bertahan terhadap kritikan. Dale Carnegie mengungkapkan "Semua orang bisa menghukum dan mendendam, namun untuk memiliki pengampunan dan pemahaman dibutuhkan karakter dan disiplin."

Konflik harus ditangani secara pribadi dan bukan dilakukan di muka umum. Konflik jangan dihadirkan di media masa. Dalam kehidupan berpasangan, tidak ada tempat buat kehadiran orang lain dalam masalah atau konflik yang dihadapi. Pertama-tama selesaikanlah secara pribadi, kalau memang membutuhkan nasehat dan konsultasi carilah seseorang yang dapat menolong dan membantu untuk mendapatkan tuntuntan dalam menyelesaikan konflik.

Jangan menunda penyelesaian konflik. Jangan membiarkan konflik memuncak lalu kita tidak sanggup lagi menahannya. Selesaikan segera dan secepat mungkin. Hal ini lebih wajar daripada kita menunggu saja. Bicarakanlah satu persoalan pada satu kesempatan. Jangan membawa daftar belanja anda pada satu keranjang sekaligus. Hindari sikap negatif yang cenderung menjatuhkan dan memojokkan pasangan kita. Hindari sindiran kasar dan kata-kata selalu dan tidak pernah. Sampaikan kritik sebagai saran atau dalam bentuk pertanyaan dan bukan dengan kecurigaan.

Yang terlebih penting lagi adalah berikanlah pujian. Pahamilah bahwa semua orang membutuhkan penghargaan yang tulus. Temukanlah hal-hal baik dalam diri pasangan anda dan ungkapkanlah sesering mungkin. Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.

Catatan: Artikel sudah dimuat di Suara Pembaruan tanggal 30 Agustus 2007

 

                                                                                                                       EvG
 

 
Konsultasi
 Copyright © 2007-2009 Lifespring. All Rights Reserved. Developed by Proweb